Home » » Menuju Pulau Dewa dan Keraton Raja melalui Darat

Menuju Pulau Dewa dan Keraton Raja melalui Darat

Written By Harso Adjie Brotosukmono on Minggu, 19 Juli 2015 | 22.04


Semua foto yang akan ditampilkan disini diambil oleh tangan dan kamera Arvin Raditya Niardi. Bila fotonya bagus, pujilah dia, bila fotonya jelek, silahkan kau bicara sendiri padanya ^^

Sebenarnya log perjalanan ini seharusnya sudah ada sejak 2 tahun yang lalu, ya benar 2 tahun yang lalu! Karena perjalanan ini berlangsung sekitar 1-7 Mei 2013. Saat itu adalah perjalanan terakhir saya dan teman-teman di SMP Negeri 1 Jakarta, acara yang biasanya tahunan, namun sepertinya berakhir diangkatan kami :( itu adalah perjalanan Jakarta-Bali-Yogyakarta yang berlangsung selama seminggu. Walaupun merupakan destinasi wisata yang mainstream namun 1 hal yang membuat saya terkenang, selain ini adalah perpisahan, adalah untuk pertama kalinya saya bisa menyusuri ujung ke ujung pulau jawa melalui jalur darat.

Jakarta - Banyuwangi
Perjalanan diawali hari itu, 1 Mei 2013, kami berangkat tepat dari SMP Negeri 1 Jakarta pukul 7.00 pagi, setelah beberapa sambutan dari kepala sekolah, komite, dan beberapa sambutan lainnya. 3 Bus Symphonie berwarna biru kami berangkat. Kebetulan bus saya berisikan 2 kelas yaitu kelas IX-5 dan IX-1. Awalnya saya memang sangat excited karena untuk pertama kalinya, naik kendaraan darat dengan rute terjauh yang pernah saya tempuh.

Bus Symphonie

Perjalanan kami berlangsung melalui Jalur Selatan Pulau Jawa pada umumnya, dengan menyusuri Rute Nasional 3 dari Jakarta hingga ke Yogyakarta, Rute Nasional 15 dari Yogyakarta hingga ke Mojokerto, dan memasuki Rute Nasional 1 ketika mulai memasuki Kabupaten Pasuruan.

Keesokan harinya, pada siang menjelang sore hari mungkin tepatnya, kami singgah untuk makan sebentar di Restoran Grafika. Restoran di Banyuwangi ini terkenal akan pemandangan seafrontnya, dari restoran ini kamu dapat melihat pemandangan pelabuhan Ketapang-Gilimanuk dan indahnya Pulau Dewata dari Kejauhan. Makanan di Restoran inipun tergolong nikmat bila dibanding dengan restoran-restoran sepanjang pemberhentian kami di pulau jawa, memang nikmat, atau kami yang memang lapar.

Menyebrangi Selat Bali

Suasana Bongkar-muat di Pelabuhan Ketapang

Sebelumnya belum pernah saya merasakan yang namanya kapal ferry, jangankan itu, pergi ke pelabuhanpun belum pernah. Apa lagi naik kapal. Nah, ini untuk pertama kalinya saya merasakan yang namanya penyebrangan menggunakan kapal ferry. Bermodal melihat kapal ferry di Internet yang kelihatannya bagus-bagus, hehehe, jangan kaget ketika naik ferry di pelabuhan ketapang ini. Satu tips dari saya adalah, kalau bisa, sebisa mungkin, harus bisa! buanglah air kecil maupun besar di pelabuhan, jika anda kurang beruntung, toilet di kapal bisa lebih buruk daripada toilet terburuk di pelabuhan. Namun kali ini saya cukup beruntung, kapal yang saya naiki tergolong kapal baru, jadi masih bagus dan bersih.

Nah karena beberapa dari kami mungkin baru sekali menyebrang dengan kapal ferry, jadilah narsis-narsis dari mulai di pinggir kapal hingga ke atap kapal. Setelah 1 jam perjalanan (sebetulnya perjalanan cuma 30 menit, tapi ditambah waktu tunggu buat docking 30 menit lagi)

Arvin Bergaya.

Gilimanuk - Denpasar
Sesampainya di Gilimanuk, perjalanan masih sangat panjang. Kurang lebih butuh 1x Jakarta-Cirebon lagi untuk sampai ke Bali yang kalian kenal, Bali yang ada pantai kutanya, Bali yang ada bule-bule pakai bikininya, atau Bali yang terkenal dengan ratusan hotel-hotelnya. Sebelum menuju hotel kami singgah dulu di sebuah tempat makan di Negara, entah saya lupa nama restorannya, yang jelas, makanannya sangat enak!

Setelah 4 jam perjalanan dari Gilimanuk, sekitar pukul 10 malam, kami sampai di Hotel, namanya adalah Hotel Nirmala, Hotel bintang 3 yang terletak di Jl. Uluwatu. Saat itu saya sekamar dengan Gabriel, Arvin, Aman, dan Adil. Sudah terlalu malam, kami langsung bergegas sholat isya + maghrib (tentu tidak dengan Gabriel) dan mandi, main Uno sebentar dan tidur.

Bali Day 1 - Barong, Patung Raksasa, dan Kuta
Hari-hari kami di Bali ditemani oleh seorang Tour Guide yang sangat ramah dan baik hati, sayang sekali saya sangat lupa siapa namanya, padahal kalau diingat-ingat namanya merupakan nama yang tidak sulit diingat. Namun karena Bli merupakan panggilan untuk laki-laki di Bali sebagaimana Tour Guide itu mengajarkan ke kami, oke kita panggil beliau "Bli" saja.

Nah, sepanjang perjalanan ke tempat wisata pertama, Bli ini bercerita banyak hal tentang Bali, tak jarang banyak dari kami jadi sangat tertarik. Mulai dari cerita tentang tradisi bali sampai cerita horor tentang Bali. Sesi tanya jawab dadakanpun tak terhindarkan. Salah satu yang membuat saya paling tercengang mungkin adalah bagaimana masyarakat bali sangat sangat sangat menjaga alamnya. Setiap pohon yang ingin ditebang haruslah melalui izin kepala keagamaan setempat karena mereka beranggapan bahwa setiap pohon memiliki roh.

Beberapa menit kemudian kami sampai di Batubulan, yap benar, daerah ini terkenal akan Tari Barongnya. Dan jelas jika kami kesini untuk menyaksikan tari barong. Sebagian besar teater diisi oleh anak-anak sekolahan baik SMP maupun SMA, mungkin karena penarinya tahu, maka drama tarian barongpun disuguhkan dengan sedikit (baca: banyak) humor.

Barong dan Lutung.

Setelah Acara Barong selesai, kami menyantap makan siang dan langsung menuju tempat wisata berikutnya, yaitu Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang rencananya akan menjadi patung setinggi 75 meter, lebih tinggi dari patung Liberty, tapi entah bagaimana dari saya umur 9 tahun ke Bali sampai sekarang, patung ini belum selesai juga...

Saya dan Arvin di Garuda Plaza.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Kuta beserta toko oleh-oleh Joger, abang-abang tukang shower di Kuta ini begitu sangar dan galak, atau mungkin saya saja yang kurang hoki mendapatkan tukang shower bekas preman tanah abang ini. di Jl. Pantai Kuta, Bus tidak boleh lewat maka kami naik kendaraan mirip angkot, tapi bukan angkot, dari toko oleh-oleh Joger ke Pantai Kuta.

Bali Day 2 - Penyu, Doughnut, dan Pura di Tengah Laut
Di hari kedua kita menuju tempat yang tidak asing lagi bagi orang-orang yang pernah ke Bali, walaupun tempat wisata di hari pertama juga sangat mainstream. Kali ini kita menuju Pantai Benoa. Pantai Benoa ini terletak di Tanjung Benoa, di Teluk Benoa, selatannya Pelabuhan Benoa. Yang terkenal dari Pantai Benoa adalah Water sportsnya. Tak mau kehilangan momen berharga akhirnya saya, arvin, gabriel, aman, dan yodha memutuskan untuk mencoba wahana Doughnut, karena katanya ini wahana baru di Benoa. Walaupun tidak semengerikan Flying Fish atau Parasailing, Doughnut ini cukup lebih mengerikan daripada Banana Boat, karena tidak hanya dipacu dengan kecepatan tinggi, namun balon yang kita tunggangi juga akan dibelok-belokkan layaknya Rollercoaster di atas air. Worth it. Tapi harganya mahal banget, Rp100.000 untuk 15 menit, padahal di Pantai Carita cuma Rp30.000 #promosi

Selain bermain water sports, kita juga menikmati perjalanan ke Pulau Penyu, menggunakan glass-bottom speed boat yang disewakan, perjalanan 10 menit dengan melihat pemandangan bawah laut melalui kaca dibawah kapal serta melihat proses pembangunan Jembatan Bali Mandara (Saat itu masih bernama Jembatan Nusa Dua-Benoa) yang sedang dibangun. Ternyata dalam pulau penyu ini isinya tidak hanya penyu, tapi juga ada ular, burung-burung, kelelawar, dan lain-lain.

Dari kiri ke kanan: Yodha, Saya, Adil, Arvin (Bocah Mode) dan Gabriel.

Perjalanan dilanjutkan ke Pura Tanah Lot, sebelum memasuki wilayah Pura, kita akan terlebih dahulu disuguhi dengan pasar kecil, pasar itu menjual beragam oleh-oleh yang sangat menarik dan harganya boleh dibilang cukup lebih murah dibanding pusat oleh-oleh di Kuta atau Denpasar. Tanah Lot ini ombaknya sangat luar biasa, karena terhubung langsung sama Samudera Hindia, sangat not recommended kalau mau berenang disini, kalau mau cari mati, boleh. 

Keindahan Pura Tanah Lot sebetulnya paling asyik dinikmati saat Sunset, namun karena kami tidak memiliki waktu hingga sunset, maka kami hanya mengunjunginya hingga pukul 4.30 sore.

Pura Tanah Lot.

Bali Day 3 - Danau Beratan
Salah satu objek yang belum pernah saya kunjungi sama sekali selama ke Bali adalah Danau Bedugul. Siapa bilang bali hanya indah pantainya saja? ternyata dataran tingginya juga tidak kalah indah! Danau Beratan ini adalah danau yang ada di dataran tinggi daerah Bedugul, Tabanan. Jika pernah lihat pura di belakang uang Rp50.000, pura itulah yang ada di Bedugul ini. Beberapa dari kami memilih untuk naik perahu dayung, namun kami orang-orang yang berduit masih banyak (padahal lebih bokek daripada yang naik perahu dayung) lebih memilih menggunakan speed boat untuk sensasi lebih luar biasa! speed boat ini disewa dengan kocek patungan Rp25.000-Rp30.000 per orang, kami ada 5 orang, bisa dihitung sendiri biaya sewa speed boatnya!

Danau Beratan, Bedugul.

Bali - Yogyakarta
Tujuan Kami berikutnya adalah Yogyakarta, sepulang dari Danau Beratan dan berpisah dengan tour guide-tour guide kami, lalu kami beranjak ke Pelabuhan Gilimanuk. Perjalanan Semalam Sehari dihabiskan untuk menuju Yogyakarta melalui Rute Nasional 1 dan Rute Nasional 15.

Yogyakarta Day 1 - Malioboro, Prom Night!
Sesampainya di Yogyakarta kita menuju parkiran bus dekat stasiun tugu untuk menikmati jalan-jalan santai dan membeli beberapa oleh-oleh, saat itu juga saya menerima pesanan dvd game yang saya pesan dari teman saya Naditira Lingga, karena kebetulan momennya pas, dia mengantarkan jauh-jauh dari rumahnya di Sedayu, Bantul ke Kota Yogyakarta maaf ya nadit T_T. Karena saya ketinggalan rombongan arvin dan kawan-kawan, saya menyusuri Jalan Malioboro bersama Shafira Habibah, yang saat itu sedang mencari baju untuk bapaknya. 

Malam harinya kita menuju sebuah Hotel, namanya Kaliurang Resort di Kaliurang pastinya, untuk menikmati santap malam istimewa dan acara pisah-pisahan yang disebut Prom Night. Jangan beranggapan kalau prom nightnya bakal hedon-hedon nggak jelas kayak sekolah sebelah, acara ini cuma makan-makan buffet ala kondangan dan cerita-cerita lucu-lucuan dan seneng-seneng ala bocah SMP. Nggak jarang acara ini dimanfaatkan para cowok untuk perfoto dengan kaum hawa lainnya. contohnya seperti si Gabriel ini

Bagi Para Jomblo, Persetan dengan Prom, Game Harus Tetep Jalan.

Yogyakarta Day 2 - Museum Gunung Merapi, Borobudur
Hari kedua kita habiskan mengunjungi Museum Gunung Merapi, Gunung yang katanya dijaga oleh Kesultanan Yogyakarta sebagai juru kunci Pantai Selatan dan Gunung Merapi, tapi dibalik itu, Museum ini sungguh amazing, selain live action dioramanya, kita juga disuguhi film dokumenter 30 menit tentang Gunung Merapi yang tentu saja sangat menambah ilmu.

Live action diroama. Gunung berapinya bisa meletus beneran lho!

Lalu perjalanan dilanjutkan ke sebuah candi yang katanya terbesar di Indonesia dan masuk ke dalam 7 keajaiban dunia, sebelumnya candi ini sempat ditutup karena letusan gunung merapi, namanya adalah Candi Borobudur. Ada mitos yang menyebutkan kalau menyentuh patung yang ada di dalam candi, maka keinginan akan terkabul, lalu banyak dari kami yang mencoba menyentuh patung tersebut. beberapa berhasil, beberapa gagal. yang pasti, menuju puncak candi borobudur sangatlah melelahkan.

Borobudur.

Disinilah perjalanan kami selama 7 hari akhirnya selesai, berbekal pengalaman dan foto, kami kembali ke Jakarta melalui Rute Nasional 3, saat itu Tol Cikapali masih dalam tahap pembangunan maka dirasa Jalur Selatanlah yang lebih efisien. Btw, ini log perjalanan pertama di Adjie Brotot Blog, tunggu log-log perjalanan menarik berikutnya ya ^^

FUN FACTS:
  • Waktu itu, bus IX-5 digabung dengan IX-1 karena banyak anak IX-5 yang suka sama anak IX-1, terjadilah terlalu banyak "cie" di Bus ini.
  • Toilet kamar saya merupakan toilet hotel yang sangat buruk -_- (maaf kepada manajemen Hotel Nirmala) karena flush pada water closet tidak berfungsi dengan baik, tak jarang, banyak genangan hijau dari teman-teman yang naik ke permukaan. Satu kata: JIJIK...!
  • Sewaktu di RM Grafika, ada 6 Bus Symphonie lainnya, dari rombongan yang berbeda, banyak dari kami yang salah masuk bus, bahkan ada yang sampai duduk dan tiba-tiba merasa "wah, mana temen-temen gue?"
  • Untuk buang air kecil, kita memiliki kode "lari ke depan" sementara buang air besar "lari ke belakang" katanya ini untuk menghindari rasa malu, padahal, menyebutkan kata-kata itu jauh lebih memalukan daripada kencing atau boker, bahkan berak.
  • Untuk pelajar, Benoa Watersports biasanya menyediakan paket promo setengah harga, temen saya sampe ada yang diving, lho!
  • Karena ini pergi jauh pertama kalinya tanpa orang tua (definisi jauh: di luar Pulau Jawa), banyak dari kami yang terlalu hedon, akhirnya pulang tanpa ongkos yang tersisa. Maafkanlah anak-anak ini yaa Tuhanku T_T
  • Saya gak tau kalo prom itu harus berpakaian resmi, karena itu saya tidak bawa kemeja sama sekali tapi untung ada teman yang berbaik hati yang meminjamkan, tapi, SEMPIT BANGET!

1 comments :

Brotot Facts: