Home » » Cerita Di Balik New Horizons

Cerita Di Balik New Horizons

Written By Harso Adjie Brotosukmono on Kamis, 16 Juli 2015 | 15.22


14 Juli 2015, Wahana Antariksa milik Amerika Serikat, New Horizons berhasil melakukan fly-by ke Planet Pluto, dimana sebelumnya belum pernah ada siapapun yang pernah melakukannya. Namun perjalanan panjang 9 tahun 5 bulan New Horizons tidak semudah yang dibayangkan, kali ini mari kita ungkap bagaimana New Horizons bisa mencapai Pluto, dari awal ia diciptakan.

Sekilas tentang Plutonian System
Pluto merupakan planet kerdil (katai/dwarf planet) yang berada di dekat Sabuk Kuiper, dan termasuk dalam objek-objek yang mengelilingi sistem matahari serta digolongkan kedalam TNO (Trans-Neptunian Object) bersama dengan planet kerdil lainnya seperti Eris, Haumea, Makemake, dan lain-lain. Jaraknya sangat jauh, hampir 30-50 Satuan Astronomi dengan rata-rata 40 SA (sekitar 5,5 jam cahaya atau 5,8 milyar km)  dari Matahari, tergantung posisinya. Untuk ukurannya yang kecil, Sistem Pluto termasuk luar biasa karena mampu mengikat 5 bulan, diantaranya: Charon, Hydra, Nix, Styx, dan Kerberos. Sebelum New Horizons mampu mencapai Pluto, kita hanya bisa mengamati Pluto dengan penginderaan jauh, seperti dengan teleskop cahaya, x-ray, radio, dan lain-lain.

Awal Mula New Horizons
Sebenarnya ilmuwan mengajukan 2 proposal untuk penjelajahan Pluto, yaitu POSSE (Pluto and Outer Solar System Explorer) dan New Horizons, namun New Horizonslah yang terpilih untuk melakukan eksplorasi Pluto. Awalnya, New Horizons akan diluncurkan pada 17 Januari 2006 menggunakan roket Atlas-V namun karena kendala cuaca peluncuran ditunda hingga 19 Januari 2006. New Horizons ini merupakan spaceprobe canggih yang dilengkapi 7 instrumen penelitian, yaitu:

  1. Alice: Kamera Spektrometer yang menggunakan cahaya ultraviolet
  2. LORRI: Long Range Reconnaissance Imaging, yaitu Kamera penginderaan jarak jauh, menggunakan cahaya tampak
  3. SWAP: Solar Wind at Pluto, yaitu detektor partikel yang mampu mengukur partikel berenergi hingga 6,5 keV
  4. PEPSSIPluto Energetic Particle Spectrometer Science Investigation, hampir mirip seperti SWAP, namun PEPSSI fokus kepada partikel berenergi besar, hingga 1 MeV
  5. Ralph: Merupakan Kamera Teleskop seperti Alice, namun menggunakan cahaya tampak
  6. SDC: Student Dust Counter, diciptakan oleh mahasiswa University of Colorado Boulder, untuk mengukur debu-debu kosmik.
  7. REX: Radio Science Experiment, yaitu kamera yang menggunakan gelombang radio.
SWAP. sumber: en.wikipedia.org

Selain alat penelitian, New Horizons juga dilengkapi alat-alat yang dapat membuatnya mengudara di angkasa, kalau diliat bentuknya, aneh bukan, biasanya space-probe akan memiliki panel surya sebagai sumber energinya, kenapa tidak demikian dengan New Horizons? Karena listrik New Horizons dihasilkan dari pembangkit Radioisotope thermoelectric generator atau lebih mudahnya adalah "PLTN Mini". Untuk mendorong New Horizons, digunakan pendorong monopropellant yang berbahan dasar hydrazine (N2H4). Untuk komunikasi, komputer New Horizons akan terhubung dengan NASA Deep Space Network (DSN) yang tersebar di California, Madrid, dan Canberra.


Menjelajah Planet-Planet di Tata Surya, Bertemu Asteroid
Pada 20 Januari 2006, New Horizons telah mencapai satelit bumi, Bulan dan pada 7 April 2006, New Horizons telah mencapai orbit Mars. Pada 13 Juni 2006, New Horizons telah mencapai orbit Sabuk Asteroid, dan tanpa diprediksi sebelumnya, New Horizons berpapasan dengan Asteroid 132524 APL, saat itu observasi pertama New Horizons dimulai dengan mengambil data dari Asteroid 132524 APL.

Perjalanan baru menarik ketika New Horizons mulai memasuki Sistem Jovian. Untuk menghemat waktu dan bahan bakar, New Horizons akan melakukan 'manuver' dengan memanfaatkan gravitasi Planet Jupiter. Metode ini dinamakan Ketapel Gravitasi, atau bahasa inggrisnya, Gravitational Slingshot. Planet-planet besar seperti Jupiter memang yang paling populer untuk melakukan manuver ini. Konsepnya adalah ...
Ketika suatu benda, space probe misalnya, mendekati sebuah planet, maka benda tersebut akan tertarik oleh medan gravitasi planet dan berakselerasi.
Seperti yang bisa disaksikan di video berikut:

Berkat Gravitational Slingshot dari Jupiter, New Horizons menghemat waktu tempuhnya selama 3 tahun. Hingga pada 8 Juni 2008 New Horizons sampai di orbit Saturnus, melewati orbit Uranus pada 18 Maret 2011, dan akhirnya mencapai orbit Neptunus pada 25 Agustus 2014.

Memasuki Orbit Pluto
5 Mei 2015, New Horizons mulai melakukan approach terhadap Pluto dan mulai mengambil gambar-gambar pertamanya dari jarak jauh, pada jarak ini, New Horizons telah menjadi benda dari bumi yang mengobservasi pluto dari jarak terdekat, setelah sebelumnya rekor dipegang oleh Voyager-1. Hingga akhirnya tepat 14 Juli 2015 lalu, New Horizons mendapatkan jarak terdekatnya dengan Pluto dan mulai mengabadikan Pluto dengan berbagai cara, salah satunya, Kamera Ralph dan LORRI yang mengabadikan gambar asli Pluto dari jarak yang sangat dekat.
LORRI dan Ralph mengabadikan gambar Pluto. sumber: en.wikipedia.org

Pada tanggal 24 Juli 2015 waktu 24 jam penuh dihabiskan untuk melakukan observasi terhadap Pluto, mulai dari foto permukaan, atmosfer, hingga observasi ke bulan-bulan Pluto.

Observasi Masa Depan
Kedepannya, New Horizons akan menjelajahi TNO lainnya serta Objek-objek di Sabuk Kuiper, NASA juga memiliki ide untuk melakukan pendaratan ke Pluto. Jika berhasil, pendaratan Pluto akan menjadi pendaratan terjauh yang bisa dilakukan umat manusia setelah sebelumnya dilakukan oleh ESA (European Space Agency) dengan pendaratan space probe Huygens ke Titan, bulan terbesar milik Saturnus pada 14 Januari 2005 atau mendaratan space probe Rosetta dan Philae yang juga milik ESA ke komet 67P/Churyumov–Gerasimenko pada 12 November 2014 silam.

Perjalanan kosmos memang selalu menarik bagi segala kalangan, segala tenaga, pikiran, dan milyaran dolar dana yang dikeluarkan untuk eksplorasi luar angkasa mengacu pada satu pertanyaan besar: "Apakah kita sendirian?". Kira-kira kapan ya negara kita bisa memulai melakukan eksplorasi luar angkasa?

1 comments :

Brotot Facts: