Bangkok, Jakarta di Semenanjung Indochina


Bangkok, ibukota dari negara tetangga kita, Thailand. Berbeda secara budaya, selera makan, sistem pemerintahan, bahasa, dan banyak perbedaan lainnya. Namun, kita punya dua kesamaan yang pasti: zona waktu yang sama dan sama-sama negara berkembang. Namun, jika melihat statistik turis mancanegara yang datang ke negara ini, jumlahnya sangat fantastis. Jumlahnya mencapai 35 juta turis setiap tahun, lebih dari setengah jumlah penduduknya! Lalu, saya penasaran, apa sih yang membuat negara ini bisa memikat begitu banyak turis? Apalagi Bangkok, kota yang agak kumuh, persis Jakarta tahun 2000an.

Pada Januari 2018 lalu, saya diberi kesempatan untuk mengunjungi kota Bangkok melalui sebuah acara pertukaran budaya ISCEF yang kala itu merupakan program ketiga yang diadakan sejak pertama kali didirikan. Tentu saja saya tidak akan bercerita tentang acara tersebut. Kali ini, saya akan bercerita tentang Bangkok.

Dua Akses

Untuk masuk ke Bangkok, kita memiliki dua pilihan. Bandara Internasional Suvarnabhumi merupakan bandara megah di sisi Timur Bangkok yang digadang-gadang setara KLIA, Changi Airport, dan Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, bahkan lebih baik lagi. Namun, bandara ini hanya bisa dinikmati bagi kamu yang melakukan penerbangan dengan full-service carrier. Oh iya, Thai Airways juga memiliki banyak penerbangan murah menuju Eropa, seperti Jerman, Perancis, dan Rusia. Jadi, bila kamu hendak berpergian ke Eropa, kemungkinan besar akan transit di bandara ini.

Bagi kamu yang naik low cost carrier, kamu akan didaratkan di Bandara Internasional Don Muang, Bangkok Utara. Bandara ini merupakan bandara lama yang interiornyapun sudah sangat kusam dan old-fashioned, mirip terminal 1 dan terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, tapi Bandara Internasional Soekarno-Hatta masih lebih baik menurut saya. Saya mendarat di malam hari, malam itu sudah pukul 01.00 dini hari sehingga saya sudah lumayan emosi dan tidak lagi berkeinginan untuk melakukan foto-foto isi bandara.

Ketika mendarat, saya disambut oleh antrian imigrasi yang sangat panjang, loket pengisian formulir yang tidak dilengkapi pulpen, dan petugas imigrasi yang tidak bisa berbahasa Inggris. Hal yang sama terjadi saat kepulangan saya dari Bangkok menuju Jakarta. Yup, Bandara Don Muang merupakan bandara internasional terburuk yang pernah saya kunjungi. 

Kota Sungai

Sungai Chao Phraya

Daya tarik utama yang memikat orang Indonesia (terutama Jakarta) tentang Bangkok adalah sungainya. Sungai Chao Phraya merupakan sungai besar yang melintas di tengah kota Bangkok. Jangan bandingkan sungai ini dengan Kali Ciliwung atau BKT Jakarta. Sungai Chao Phraya memiliki ukuran yang mirip dengan Sungai Musi di Palembang, bahkan sedikit lebih besar. Tidak hanya kapal wisata, kapal kargo ukuran kecil hingga menengah juga banyak yang melintas di Sungai Chao Phraya.

Salah satu tempat wisata yang terkenal di sekitar Sungai Chao Phraya adalah Kuil Wat Arun atau Temple of the Dawn seperti yang ada di gambar utama postingan ini. Jika kamu berasal dari Bangkok bagian barat, maka kamu harus menyebrang sungainya terlebih dahulu dengan membayar 5 baht (sekitar 2000 rupiah) untuk naik kapal kayu. Biaya masuk ke Wat Arun gratis, tapi untuk naik ke atas kuil kamu harus membayar sekitar 200 baht (sekitar 80.000 rupiah) untuk turis internasional, mahal ya.

Asiatique the Riverfront

Bagi kamu yang suka berbelanja, Bangkok juga dikenal sebagai surga belanja. Secara umum, biaya hidup dan harga barang di Bangkok sedikit lebih murah daripada Indonesia. Sebotol air mineral berukuran 600 ml bisa kamu dapatkan dengan harga 3 baht (sekitar 1.200 rupiah) saja. Nah, salah satu tempat belanja yang dekat dengan Sungai Chao Phraya adalah Asiatique the Riverfront yang dahulu merupakan tempat pertemuan pelayar dari Belanda, Inggris, Perancis, dan Portugal untuk bertukar barang hasil bumi negara jajahannya masing-masing. Ada banyak barang yang bisa ditemukan di pasar ini mulai dari kerajinan tangan khas Thailand, minuman Thailand, makanan Thailand dari kelas premium seperti lobster, tiram, dll hingga kelas 'ekstrim' seperti kalajengking, kodok, ulat, dll. Di Asiatique ini juga ada kincir raksasa yang diberi nama Bangkok Eye, mungkin meniru London Eye di Inggris.

Great Transportation!

Siam Discovery Mall, salah satu pusat transit Skytrain
Salah satu Skytrain melintas di samping Siam Discovery

Dahulu aku pernah takjub dengan transportasi umum di Kuala Lumpur. Sangat mudah untuk berpergian dari satu tempat ke tempat lain tanpa harus berganti-ganti moda transportasi secara ribet karena semuanya terhubung dengan baik. Hal yang sama juga saya dapatkan di Bangkok, namun dengan level di bawah Kuala Lumpur pastinya. Bangkok memiliki sistem transportasi massal berupa MRT yang mereka sebut BTS atau Skytrain. MRT ini sudah dibangun sejak tahun 1999 dalam rangka memperingati siklus ulang tahun raja ke-6. Sungguh miris sepertinya ketika melihat Jakarta baru membangun MRT di tahun 2018. Delapan belas tahun terlambat dibanding sepupunya Bangkok.

Bangkok Water Taxi

Selain transportasi modern seperti MRT, transportasi tradisionalnyapun ada. Bangkok memiliki tuk-tuk atau setara dengan bajaj di Jakarta. Selain itu, water taxi di Bangkok juga beroperasi dengan baik. Water taxi adalah moda transportasi massal seperti bus namun dioperasikan menggunakan perahu. Bagi kamu yang ingin berpergian cepat dan murah, jangan khawatir, ojek juga tersedia di Bangkok.

Suasana Kota Asia

Suasana Bangkok

Suasana di Bangkok sama saja dengan Jakarta. Sampah di jalanan atau pedagang kaki lima tetap ada. Namun, inilah yang dicari oleh turis-turis Eropa dan Amerika. Mereka bosan dengan suasana metropolitan yang bersih dan teratur di negara mereka. Mereka ingin sedikit suasana 'berantakan' namun tidak mengurangi kemudahan mereka dalam berwisata. Bangkok menjadi kota yang pas dengan keinginan mereka. Suasana yang kumuh namun sistem transportasi massal yang lumayan baik membuat mereka tetap nyaman berpergian. 

Pertanyaannya, apakah Jakarta bisa melakukan hal serupa? Jakarta memiliki potensi yang sama. Kumuh dan (semoga saja) sebentar lagi sistem transportasinya membaik, bahkan bisa lebih baik dari Bangkok. Jakarta memiliki BRT terpanjang di dunia, kereta komuter dalam kota, dan sementar lagi kita kedatangan banyak jalur LRT dan MRT sekaligus. Kita hanya bisa berharap, suatu saat Jakarta tidak hanya sebagai kota bisnis namun juga bisa dijadikan kota wisata bagi turis mancanegara.

FUN FACTS:

  • Saya berkunjung ke salah satu universitas di Bangkok, yaitu Srinakharinwirot University. Pada tingkat universitas sekalipun, mahasiswa Thailand masih menggunakan seragam.
  • Banyak orang Thailand yang tidak bisa berbahasa Inggris karena bahasa Inggris mungkin bukan bahasa kedua mereka seperti di Indonesia, tapi banyak dari mereka yang berasal dari Thailand bagian selatan dan bisa berbahasa Melayu/Indonesia. Jadi, sebelum belanja cek saja kemampuan bahasa apa yang mereka miliki.
  • Soal kemacetan, kemacetan Bangkok sama parahnya dengan Jakarta.
  • Bang-Na Expressway merupakan tol layang terpanjang di dunia yang melintas di pusat kota Bangkok.
  • Tidak seperti Jakarta yang gedung-gedung tingginya menjamur di SCBD dan Kuningan, gedung-gedung tinggi di Bangkok lebih tersebar ke berbagai penjuru kota.
  • Di Indonesia ATM merupakan tempat yang sangat 'sakral' keamanannya sangat dijaga dan ditempatkan ke dalam ruangan khusus dan diberikan pendingin ruangan, tapi di Thailand tidak demikian. Kamu bisa menemukan ATM tepat dipinggir jalan, seperti telepon umum.
  • Masyarakat Thailand sangat cinta terhadap rajanya. Sama seperti di Arab Saudi, kamu bisa melihat foto Raja Thailand dimanapun sepanjang jalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertidaksamaan Irasional