Home » » Catatan Seorang Mentor

Catatan Seorang Mentor

Written By Harso Adjie Brotosukmono on Rabu, 23 Agustus 2017 | 23.17


Pra Sekolah Mentor

Perjalanan kami, semua panitia OSKM 2017 diawali dengan suatu acara bernama dikpus alias diklat terpusat. Ya, diklat sendiri merupakan singkatan dari pendidikan & latihan. Jadi dikpus adalah pendidikan & latihan terpusat. Acara ini aku skip saja ya, tidak begitu banyak yang bisa diceritakan. Di akhir dikpus, ada perkenalan divisi-divisi OSKM. Seluruh mata tertuju pada mereka, Balearica Nirada alias divisi medik, Zastra Varga alias divisi keamanan, dan terakhir dimeriahkan oleh yel-yel memukau dari Claravis Ascarya alias divisi mentor. Medik, keamanan, dan mentor dikenal dengan para panitia lapangan, garda terdepan OSKM ITB.

Dikpus berakhir, aku memutuskan untuk memilih divisi dengan hafalan yel-yel terbanyak ini sebagai pilihan pertama. Divisi mentor. Divisi dengan jumlah armada terbanyak di OSKM yaitu sekitar 600 orang calon mentor walaupun pada akhirnya tersisa 475 orang saja yang berhasil jadi mentor sesungguhnya. 


Sekolah Mentor

Menjadi seorang mentor diperlukan waktu yang tidak sebentar. Keamanan dan medik juga demikian. Setidaknya 2,5 bulan diklat divisi kami berlangsung, kami menyebutnya sekmen alias sekolah mentor. Sebagai calon panitia lapangan, konsep agitasi dan fisik mutlak diperlukan di divisi mentor. Namun, konsekuensi fisik terbatas hanya jika melakukan kesalahan saja. Tidak terhitung sudah berapa kali aku melakukan seri karena terlambat dan tidak membawa spek, tapi tidak apa-apa karena di setiap keringat itu aku membayangkan bagaimana wajah maba yang akan menjadi anak kami nanti.

Sekolah mentor ternyata lebih seru daripada apa yang aku bayangkan. Tidak semua bonding harus diciptakan dari agitasi dan pemaksaan agar sebuah angkatan jadi solid. Sekolah mentor sarat akan kegiatan jalan-jalan dari sebuah 'keluarga' yang kita sebut sebagai satu legiun. Legiunku, legiun 16 yang memiliki PJ Amsyari tapi jarang datang karena sibuk PKM :( dan komandan yel-yel yang super aktif bernama Syahwira. Legiun ini juga membentuk dua orang komandan batalyon yaitu Haura dan Abay. Oh iya, ketika menjelang hari-H dua legiun akan digabungkan membentuk sebuah batalyon. Batalyon ini yang kedepannya akan menjadi unit kerja divisi mentor.

Kegiatan di awal sekolah mentor adalah mentoring oleh mentornya mentor alias pendiklat. Kak Cahyo dan Kak Kem menjadi dua orang pendiklat yang pernah mendidik aku selama sekolah mentor. Kebanyakan materi yang diberikan adalah cara melakukan mentoring dengan benar ketimbang konten mentoring itu sendiri yang sudah pernah diajarkan saat dikpus.

Setelah beberapa bulan agitasi, cek spek, dan lain-lain, tiba saatnya melakukan pernikahan. Ya, pernikahan adalah momen dimana para suami mentor dipertemukan dengan istri mentor. Pernikahan ini dilakukan secara sakral, ada buku nikah, mahar, dan penghulunya beneran wkwk. Agnita dari rekayasa pertanian terpilih menjadi istri yang akan mendampingiku di OSKM. Karena kita merasa lelah mengurus keluarga berdua saja, akhirnya Nita memutuskan untuk selingkuh dan merekrut Enriko dari teknik kimia untuk menjadi bagian dari keluarga kami. Kegiatan bonding berlangsung sangat singkat sampai akhirnya ikatan kekeluargaan terbentuk diantara kita bertiga dan kami dinyatakan siap untuk terjun menjadi seorang mentor yang sesungguhnya.

Simulasi demi simulasi kami jalani, mulai dari mentoring dan mobilisasi dengan tali, ngelawak sama tali, tali ketabrak mobil, keamanan bukan marahin tali malah marahin mentor, dan kegiatan lucu lainnya telah kami jalani. Dua hari sebelum OSKM ditutup dengan forbas. Forum bebas, forum lapangan basket, atau forum bangsat aku lebih suka menyebutnya. Dalam forum ini, semua boleh berbicara. Mulai dari kahim sampai anggota jelata himpunan - bahkan nonhim juga boleh. Aku tidak tahu apa esensinya tapi yang aku tahu ini adalah ajang yang cocok untuk arogansi bagi mereka yang haus arogansi, termasuk mereka angkatan 2016 yang baru kemarin dilantik jadi massa himpunan.


Hari-H

Pada 17 Agustus 2017 menjadi hari yang sangat spesial karena aku akan bertatap muka dengan mereka, wajah-wajah murni siswa SMA. Wajah-wajah suci yang belum terpengaruh efek arogansi dan agitasi. Sejenak aku lupa tentang lelah letih perjalanan sebelumnya hanya dengan melihat wajah mereka. Tiga hari ini memang melelahkan, namun rasa ngantuk berangkat jam 3 pagi dan pulang jam 11 malam langsung hilang ketika mendengarkan suara tertawa mereka mendengarkan lelucon atau ice breaking yang aku sampaikan, yang telah aku pelajari dari sekolah mentor.

Ketika hari OSKM berakhir, aku bergumam, jika hari ini adalah 3 bulan yang lalu, aku akan tetap memilih divisi yang sama dan mengikuti diklat yang sama. Aku berharap, 9 bulan sejak hari ini, keluargaku bisa melanjutkan cita-cita mulia dari seorang mentor: sebagai kakak yang berempati, panitia lapangan yang disiplin, yang bisa menebar manfaat, serta penjamin materi yang berwawasan. Semoga aku dan mereka nantinya senantiasa menjadi pribadi yang selalu berkembang.

Ditulis jujur,
Harso Adjie Brotosukmono

Bagian dari,
Keluarga 75 - Distrik 31 - Legiun 16 - Batalyon 4
Procerus Abisatya

0 comments :

Posting Komentar

Brotot Facts: