Home » » National Olympiad in Electrical Engineering (Electra)

National Olympiad in Electrical Engineering (Electra)

Written By Harso Adjie Brotosukmono on Sabtu, 26 Maret 2016 | 14.58


Dua hari telah berlalu semenjak penyisihan tingkat regional dimulai, akhirnya, pada 16 Februari 2016 tim kami, Naxgawlz dinyatakan lolos menuju semifinal di Surabaya. Nama kompetisi itu adalah Electra, yang hadiah akhirnya adalah uang tunai dengan nominal yang lumayan serta freepass masuk Teknik Elektro, Teknik Multimedia-Jaringan, atau Teknik Biomedis ITS. wow kan!

Dari 1359 tim dari berbagai sekolah di Indonesia, hanya 53 tim yang diperbolehkan untuk menginjakkan kaki di Kampus ITS, dari Jakarta sendiri, hanya ada 4 tim yang dapat melanjutkan perjuangan. Mereka adalah SMAN 61 Jakarta, SMAN 1 Bekasi, SMAN 1 Depok, dan tentu saja dari sekolah kami, SMAN 68 Jakarta. Tim kami terdiri dari 3 orang anggota, sang matematikawan bernama Avisenna Abimanyu (Sena), sang Fisikawati bernama Bela Ita Karina (Bela), dan tentu saja saya sendiri, tak jelas apa tugas saya, tapi sepertinya saya diberi dua amanat oleh mereka, yaitu sebagai Computer Scientist dan Ketua Tim.

Dari kiri ke kanan: Saya, Bela, dan Sena

Day 1 - Intermezzo
Tepat tanggal 19 Februari 2016, kami langsung bergegas menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, terutama untuk saya dan sena karena pesawat kami akan take-off pada pukul 15.10. Untuk bela, penerbangan kami terpisah dengan dia karena sebagai wanita ia harus berangkat bersama ibunya sebagai pendamping, sayang sekali :'(

Saya sangat excited dengan penerbangan kali ini, karena untuk pertama kalinya dua orang bocah berpergian sendiri, bahkan sesaat sebelum memasuki bandara kita tidak tahu apa itu check-in atau boarding pass karena biasanya diurus sama orang tua atau pihak travel, tapi entah kenapa ketika memasuki gerbang Terminal 1A, pengetahuan akan dunia penerbangan masuk begitu saja ke dalam kepala ini.

Setelah menunggu hampir 1 jam, gate dibuka, penumpang dipersilahkan untuk boarding ke dalam pesawat. Pesawat kami adalah Batik Air, dengan nomor penerbangan ID-6578. Pesawat yang digunakan kali ini adalah tipe Airbus A320 CEO dengan konfigurasi bangku 3-3. Seperti biasa, saya memutuskan untuk duduk di dekat kaca untuk merasakan sensasi lebih. Tapi sayang, seumur-umur saya naik pesawat, belum pernah duduk di depan jet, selalu di belakang jet.

Interior Batik Air Airbus A320 CEO

Setelah perjalanan yang sangat singkat, sambil menikmati roti isi daging yang sudah dingin namun tetap nikmat, kita berdua sampai di Bandara Internasional Juanda. Yeah! Nothing to do here. Kami gabut cukup lama menunggu orang yang akan menjemput kami. Lalu dari kejauhan muncul seseorang dengan baju batik, namanya adalah Cahya Perbawa Aji (red, mahasiswa Teknik Biomedis ITS). Perjalanan selama 30 menit, kami sampai ke Hotel Gunawangsa di Manyar, Surabaya. Hotel ini sangat sangat dekat dari ITS. Fasilitasnya juga lumayan. Saya dan sena mendapatkan kamar di lantai 16, butuh waktu beberapa menit untuk menuju kesana menggunakan lift, dan tidak mungkin berjalan kaki degan tangga. Dan fitur yang paling menarik adalah sarapannya yang sangat wah! dan beragam serta tentu saja enak-enak.

Hotel Gunawangsa dari ketinggian

Day 2 - Elektro 10 Nopember
Setelah bermalam di hotel, tibalah saatnya memperjuangkan harga diri untuk kemajuan bangsa dan negara. Kak Aji menjemput kami pukul 6.30 di hotel, kami dibawa ke Fakultas Teknologi Industri ITS, di sana para calon insinyur elektro dari seluruh Indonesia sudah berkumpul. Ada yang orang tiongkok (sorry bukan rasis), ada yang orang kampung (sorry sekali lagi bukan rasis), dan banyak juga yang mukanya mirip Tiang SUTET 500 kV (maap, yang kali ini beneran rasis).

Sebelum kompetisi dimulai, kita diberi technical meeting dulu tentang peraturan dan kisi-kisi lainnya. 1 orang betugas sebagai surveyor lapangan dan 2 orang sebagai pemerhati yang baik di auditorium. Bela sebagai wanita satu-satunya kami tunjuk sebagai surveyor lapangan dan betugas memetakan jagad gedung teknik elektro ITS itu. Sementara saya dan sena, sebenarnya disuruh nyatat apa yang diomongin di technical meeting, tapi namanya juga cowok, catatan kita kosong hehehe.

Technical Meeting

Akhirnya kompetisipun dimulai, formatnya adalah rally games, siapa yang mendapatkan poin terbesar, dia yang menang. Kita menuju pos pertama, karena lari kita kurang cepat, seluruh pos laboratorium sudah penuh, tersisa pos taruhan, yasudah, kita menuju ke pos taruhan, dari 400 poin, kita taruhkan 100 poin. Soal yang diberikan adalah membuktikan kalau tegangan/arus efektif pada rangkaian alternating current adalah root-mean-square dari tegangan/arusnya (kalo mau tau apa itu alternating current, bisa baca-baca dulu di sini). Kita kagak tau ini soal sulit atau mudah tapi dengan kuasa Allah, soal ini terjawab dan kita mendapatkan poin 500! sampai titik ini, kelompok kamilah kelompok dengan skor tertinggi se-jagat ITS (tapi ini gak akan berlangsung lama!)

Di pos kedua, poin yang harus kami pertaruhkan adalah 150 poin untuk membeli soal, soalnya adalah tentang rangkaian induktif yang dialiri arus bolak-balik. Jika dikerjakan dengan pikiran jernih, mungkin cukup mudah, tapi sayang, karena terlalu terburu-buru akhirnya kita salah dan poin kita tinggal 350, di titik ini, kita mulai senyum-senyum kayak orang gila, kecepatan lari menuju pos berikutnyapun menurun.

Di pos ketiga kita diharuskan mengubah sebuah IP Address yang ditulis dalam basis desimal, menjadi IP Address yang ditulis dalam basis binary. Karena terlalu takabur menganggap soal itu terlalu mudah dan juga keringat yang sudah mengucur terlalu deras, dengan kuasa Gusti Allah jawaban kita dinyatakan salah! iya SALAH! saat itu poin kita sisa 200. di titik ini, kita pengen nangis darah.

Di pos keempat adalah pos konversi energi listrik, hanya dengan mempertaruhan 50 poin, soal yang diberikan cukup mudah yaitu tentang Sistem Distribusi Energi Listrik dari pembangkit menuju konsumen, soal ini terjawab dan poin kita kembali menjadi 350. Di titik ini, kita mulai berpikir untuk "sudah, tidak usah dilanjutkan, cukup 350 saja" tapi namanya juga anak-anak, rasa ingin tahunya tinggi, akhirnya kita mengunjungi hampir semua pos dan entah bagaimana poin kita mencapai ke titik 0. Tapi dengan mukjizat dari tuhan, kita KALAH dengan poin 100! setidaknya kalau di Jakarta ditanya sama teman
Teman: "Gimana bro?"
Saya: "Hehehe"Teman: "Nilai lu berapa?"Saya: "100 BRO!"Teman: "Widih!! hebat banget, lu yang paling tinggi ya?"Saya: "Kagak, yang tertinggi 1000!" *diinjekiburisma*
Peralatan Perang kami.

Alkisah, lupakan kekalahan, sekarang adalah waktunya Tour de Campus, Teknik Elektro ITS ini memiliki 16 Laboratorium, salah satu laboratorium yang paling berkesan adalah laboratorium Elektronika-Biomedika dan laboratorium Tegangan Tinggi. Di Lab Biomedis, kita bisa melihat alat yang namanya Electro Encephalo Graph (EEG) yang bisa mengambil data-data dari gelombang otak yang lalu bisa digunakan untuk menggerakkan komponen elektronika, seperti kursi roda.

Laboratorium Elektronika Biomedika

Sementara jauh, terpencil, dan besar ada Laboratorium Tegangan Tinggi. Lab ini merupakan lab paling boros listrik se-ITS, diikuti dengan lab Konversi Energi Listrik. Di Lab Tegangan Tinggi, seluruh praktikumnya menggunakan listrik dengan tegangan lebih dari 1000 Volt dan bahkan, saat demo kita ditunjukkan bagaimana kilatan petir tercipta dengan listrik sebesar 20 kV.

Laboratorium Tegangan Tinggi

Day 3 - Kota Hiu dan Buaya
Singkat cerita, berakhirlah perjalanan kita di kampus ITS, keempat tim dari Jakarta harus pulang tanpa membawa piala, uang tunai, apalagi tiket freepass masuk Elektro ITS. Setelah puas berkeliling ITS, esok harinya kita bangun agak siang, tujuan kita kali ini adalah melakukan city-tour Surabaya! City tour kami hanya berlangsung ke dua tempat, maklum, pukul 6 sore nanti kita sudah harus mengejar pesawat milik Bela (walaupun pesawat saya dan Sena masih take off pada pukul 7 sore. Kami mengunjungi Skate & BMX Park, taman kota yang terletak di pinggir Kali Mas dekat Mall Delta Plaza, terkenal dengan patung hiu dan buayanya. Jangan bayangkan kalau Kali Mas mirip dengan Kali Ciliwung, Kali di kota ini sangatlah bersih, mirip dengan kali-kali di Italia atau Belanda, bahkan kali ini juga dijadikan tempat wisata dengan disediakannya perahu-perahu untuk berkeliling.

Patung Hiu dan Buaya, Simbol Kota Surabaya

Lalu kita juga mengunjungi objek wisata yang tidak jauh dari situ, namanya adalah Monumen Kapal Selam KRI Pasopati, dari kejauhan sudah bisa terlihat kapal selam yang megah. Biaya masuknya hanya Rp10.000 per orang, sudah termasuk berkeliling kapal selam, menonton film dokumenter, dan menonton kuda lumping. Yang menarik dari kapal selam ini adalah, tombol-tombolnya menggunakan Bahasa Rusia. Selain itu, ukuran dan peralatan kapal selam ini tergolong canggih untuk kapal selam dizamannya.

KRI Pasopati

Lalu, pukul 4 sore kami bergegas kembali menuju bandara, setelah menunggu lama sekali, akhirnya tibalah panggilan untuk Batik Air ID-6587. Kali ini pesawat yang digunakan berbeda, yaitu Boeing 737-800 NG, sedikit lebih kecil dibanding Airbus A320 CEO saat berangkat. Karena pesawat kecil dan cuaca yang kurang baik, getaran yang dialami pesawat sangat terasa ketika pesawat menabrak awan hujan atau dihembus oleh angin. Akhirnya, sekitar pukul 9 malam kami tiba di SHIA dengan selamat.

Eksterior Boeing 737-800NG

0 comments :

Posting Komentar

Brotot Facts: