Home » » Penjelasan atas Teori Konspirasi Pendaratan Bulan

Penjelasan atas Teori Konspirasi Pendaratan Bulan

Written By Harso Adjie Brotosukmono on Senin, 20 Juli 2015 | 12.49


Sudah tak terhitung berapa kali kita mengunjungi Bulan, Bulan bisa dikunjungi tidak hanya oleh negara adikuasa beruang banyak sekaliber Amerika, Rusia, atau Uni Eropa. Negara yang kita sangka 'negara berkembang' pun, sudah bisa mengunjungi Bulan, dia adalah India, dengan misi Chandrayaan-1. Tercatat sejarah, sudah 72 kali manusia mengunjungi Bulan, 72 misi dari berbagai negara, bahkan, saat ini Bulan sudah seperti objek wisata mewah bagi kita manusia, tidak hanya mengirim space probe atau lander atau bahkan manusianya saja, kita juga sudah bisa mengirim mobil penjelajah bulan (Moon Exploration Rover) ke permukaan bulan. Bukan hanya sisi bulan yang kita lihat sehari-hari, kita juga sudah berhasil mengunjungi Sisi Jauh Bulan (Far Side of the Moon) yang tak tampak dari Bumi. Selain itu, kita juga telah mengunjungi banyak planet lain, terutama Mars. Yang bisa disaksikan di Infografik berikut ini:

sumber: cosmicdiary.org

Namun siapa sangka, beberapa orang yang tidak percaya bahwa manusia pernah melakukan pendaratan di Bulan, pada kasus yang sederhana, mereka hanya tidak percaya pada pendaratan Apollo 11, pada kasus yang tahap ekstrim, mereka tidak percaya pada seluruh pendaratan manusia di objek luar angkasa, pada kasus yang tidak masuk akal, mereka tidak percaya pada seluruh penerbangan luar angkasa.

Nah, post kali ini lebih difokuskan pada pembuktian pendaratan Apollo 11 yang terkenal sebagai pertama kalinya manusia mendarat di Bulan. Cukup aneh memang, New Horizons sudah sampai Pluto, mereka masih tak percaya dengan pendaratan bulan. Tidak berlebihan mungkin bila dikatakan kalau masyarakat Indonesia lebih percaya kepada teori konspirasi dibanding fakta penelitian. Mari kita bahas satu per satu hal yang tidak membuat mereka percaya dengan pendaratan Apollo 11.

Q: Katanya Di Luar Angkasa, Mana Bintangnya?
Mungkin inilah mereka yang terlalu sering menonton film kartun atau melihat foto kosmos yang sudah melalui proses editing agar terlihat lebih artistik. Cahaya bergerak jauh lebih cepat dalam ruang vakum, yang artinya kalau kamu melihat bintang-bintang dari bumi, cahaya mereka 'ditangkap' dan 'diperlambat' oleh atmosfer bumi, menjadikan bintang-bintang begitu jelas bila dilihat dari dalam planet, hal berbeda dengan bulan, atmosfer bulan sangatlah tipis dan hampir seperti ruang vakum, cahaya bintang tidak mudah tertangkap.

Bahkan, salah satu foto yang diabadikan pada pendaratan bulan modern jauh setelah Apollo 11, berjudul Earthrise tidak menunjukkan adanya bintang, bahkan, bumipun terlihat gelap.

sumber: earthsky.org

Selain dari faktor atmosfer bulan itu sendiri, faktor kamera yang digunakan juga berpengaruh, Kamera yang digunakan para astronot fokus terhadap objek dekat, maka otomatis objek jauh akan blur, namun karena objek jauh itu cahayanya sangat redup dan backgroundnya yang hitam, maka akan seolah-olah tidak ada.

Q: Ga Bakal Bisa Keluar Bumi, ada Radiasi dari Sabuk Van Allen
Ini salah satu alasan populer dan pernah dijadikan alasan oleh guru bahasa indonesia saya sewaktu zaman SMP sebagai argumen penguat bahwa manusia tidak pernah ke Bulan.

Sebenarnya apa Sabuk Van Allen itu? Sabuk Van Allen adalah Medan Magnet yang dihasilkan oleh magnetosfer suatu planet, Sabuk Van Allen adalah sebutan tersendiri khusus untuk medan magnet bumi. Teorinya, semakin besar planet, maka akan semakin besar pula medan magnetnya. Jangankan hanya untuk medan magnet bumi, pesawat-pesawat kita sudah banyak yang bisa menembus medan magnet Jupiter yang terkenal sangat ganas dan sudah mulai berdampak sejak memasuki Sabuk Asteroid. Untuk melewati Sabuk Van Allen manusia hanya akan 'terserang' radiasi sebesar 1 rem, sementara dibutuhkan minimal 300 rem untuk membuat seorang manusia meninggal dunia, bandingkan dengan magnetosfer milik Jupiter yang kekuatan radiasinya hingga 3600 rem. Belum ditambah bahwa pesawat antariksa khususnya yang membawa manusia pastilah memiliki pelindung khusus agar tidak terjadi apa-apa terhadap orang di dalamnya.

Q: Jejak Kaki Edwin Aldirin terbentuk, Tapi Kok Bekas Pendaratan Ngga ada?
Semakin kesini memang terlihat Teori Konspirasi semakin masuk akal, tapi ayo terus kita bahas secara ilmiah. Siapa bilang tidak ada, pasti ada, namun tidak besar. Permukaan bulan sangat beragam sama seperti bumi, jangan kira hanya sebatas batuan saja. Pendaratan pastilah harus dilakukan di batuan yang cukup keras, coba bayangkan kalau pesawat mendarat di lumpur atau debu? gila kan? Karena itu bekas pendaratan yang ditinggalkan cenderung tidak terlihat, lagipula, tidak mungkin pesawat yang ingin mendarat akan terus memacu roketnya, pastilah pesawat mendarat dengan kecepatan seminimal mungkin, apalagi untuk Vertical landing and take-off seperti pesawat lander bulan.

Jejak Edwin Aldirin.
sumber: en.wikipedia.org

Lalu kenapa bisa ada jejak Edwin Aldirin? Karena ia menginjaknya di daerah debu, bukan batuan. Coba kalau kamu ke pantai, tidak perlu diinjak, cukup menapak saja, pasti langsung terbentuk jejak kali bukan? Diluar gravitasi bulan yang 6x lebih kecil dari Bumi, jika kita anggap massa Edwin adalah 80 kg, di bumi ia akan memiliki berat 800 N sementara di bulan tidak lebih dari 140 N atau sekitar 14 kg massa bumi, tidak kah cukup benda seberat 14 kg membentuk lubang pada pasir di pantai? bahkan kucing yang tidak sampai 10 kg saja bisa meninggalkan jejaknya.

Q: Benderanya Berkibar! Di Bulan Tidak Ada Angin!
Inilah yang paling populer dari yang terpopuler, yang paling sering digunakan masyarakat Indonesia sebagai argumen untuk membantah pendaratan Apollo 11.

Bendera yang dibawa para astronot ke Bulan merupakan bendera yang di design khusus, segala lekukan itu bukanlah berasal dari angin melainkan memang benderanya yang dibuat melekuk agar terkesan heroik, bisa terlihat di gambar dibawah ini bagaimana lekukan bendera tidak berubah sedikitpun pada 2 foto yang berbeda.

sumber: en.wikipedia.org

Sikapilah segala sesuatu secara kritis, jangan terlalu mudah percaya dan jangan pula terlalu mudah tidak percaya, karena segala Teori Konspirasi walaupun masuk akal bagi akalmu, belum tentu faktanya demikian. Sampai saat ini sudah ada 12 orang yang mendarat di Bulan, bila kamu saja tidak percaya pada pendaratan bulan, bagaimana manusia bisa mengirim orang ke-13? Boro-boro untuk bantu melakukan penelitian tentang pendaratan manusia di objek luar angkasa, support aja enggak. Bahkan tahun 2020an direncanakan pendaratan manusia pertama ke Mars. Akankah muncul Teori Konspirasi lagi?

0 comments :

Posting Komentar

Brotot Facts: